1. Kuatkan Keyakinan Diri (Optimisme)
Keyakinan adalah senjata yang paling ampuh untuk menghadapi kegagalan. Optimisme memungkinkan kita melihat warna hidup dengan lebih indah. Dengan optimisme, penderitaan kita akan lenyap dan semangat akan bertambah. Karena tidak akan ada faktor yang mampu mengurangi permasalahan dalam kehidupan manusia sebagaimana optimisme, rona bahagia akan terpancar di wajah orang-orang yang optimis. Bukan saja ketika menikmati kepuasan melainkan juga dalam keadaan postif maupun negatif.
Orang yang optimis adalah mereka yang selalu meyankini akan adanya perubahan pada kehidupan. Selain optimis, unsur yang dapat menciptakan keadaaan yang menyenangkan adalah prasangka positif terhadap kehidupan. Bukankah Allah sesuai apa yang hamba prasangkakan. Dan prasangka yang positif (baik) adalah jaminan datangnya kebaikan.
Yusuf Luxori dalam bukunya "Percaya Diri" mengungkapkan : Percaya dan sukses adalah dua hal yang tidak dapat dipisihkan. Tidak mungkin kita mengatakan seseorang sukses sementara dia tidak percaya diri. Begitu pula kita mengklaim seseorang itu gagal jika dia bisa memaksimalkan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bahkan Yusuf Luxori memberi kiat dan cara menghadirkan percaya diri. Diantaranya adalah :
1. Tumbuhkan sikap positif dalam jiwa dan kikis habis sifat negatid karena inilah yang dapat menejrumuskan kita pada kegagalan.
2. Berjalanlah seimbang, target yang kita cita-citakan harus mengacu pada kemampuan dan keahlian yang kita miliki.
3. Bergaulah dengan baik kepada setiap orang, sebab meraka akan berbuat baik dan menaruh hormat pada setiap orang yang menghormati dan menghargai mereka.
4. Jagalah penampilan agar tetap baik dan serasi, sebab hadirnya simpati karena kita mampu memperlihatkan yang terbaik.
5. Pilihlah teman yang percaya kepada kita, maka dia akan mengangkat derajat dan martabat kita.
2. Hilangkan penyebab kemunduran
Sayyid Abbas Al Mudarisi dalam "Kaifa Tarbahul Hayat" menulis : ada empat yang dapat merusak dan meluluhkan kehidupan kita, yaitu : rasa putus asa, kejenuhan, kemalasan, dan kegelisahan.
a. Tidak ada alasan untuk berputus asa
Putus asa ibarat bom waktu yang dalam sekejap mampu membumihanguskan seluruh kekuatan dan kemampuan. Kelemahanlah yang menjadikan rasa putus asa itu muncu. Betapapun demikian ini adalah sifat yang sangat wajar. Allah berfirman :
"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (Qs. Fushilat : 49) "
Cara termudah menghilangkan rasa putus asa adalah keimanan dan bertawaqal. Karena semakin tinggi keimanan seseorang maka akan semakin besar rasa optimis yang ada. Dan tidak ada kata damai untuk kegagalan.
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Qs. Ath-Thalak : 3) "
b. Tidak ada alasan untuk jenuh
Sifat jenuh dapat mematikan kreatifitas, karena siapa pun yang dikuasai rasa jenuh maka sebenarnya kebahagiaan telah hilang dari dirinya. Rasulullah bersabda : " Jika anda jenuh, maka anda tidak akan sabar dalam kebenaran. "
Hanya ada satu cara menghilangkan sifat jenuh, yakni bertekad menghancurkan dinding kejenuhan dan keluar menuju jalan harapan. Ingatlah dampak dari kejenuhan yang lebih cenderung mempercepat keagagalan.
c. Tidak ada tempat untuk bermalas-malasan
Kemalasan tidak memberikan apapun kepada seseorang kecuali satu hal, yakni kesengsaraan. Kemalasan mendatangkan dua hal : Pertama yaitu hilangnya hak. Rasulullah bersabda : " Apabila anda malas, maka anda tidak mungkin menjalankan hak anda. "


Posting Komentar