Saudara yang dimuliakan Allah,
Hari demi hari silih berganti, malam demi malam terus mengikuti. Begitu seterusnya, manusia adalah musafir yang sedang menelusuri perjalanan yang ditemani waktu hingga akan sampai pada titik akhir perjalanan, yakni kematian. Sesunggguhnya setiap tapak kaki kita yang tetinggal adalah saksi dari perjalanan hari-hari.
Hanya orang bodoh yang membiarkan waktu hidupnya tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan kebaikan.
Sahabat, setiap kita adalah bagian dari kafilah ummat manusia yang terus berjalan silih berganti dari generasi ke generasi, peradaban demi peradaban. Dan setelah sekian waktu melewati masa dunia hingga kelak ke akhirat kemudian berakhir pada satu tempat, surga atau neraka.
Seorang yang bijak akan selalu menyadari bahwa perjalanan adalah tugas berat dan penuh tantangan yang tidak mungkin dapat dinikmati dengan santai dan bersenang-senang. Sebab kesenangan dan kenikmatan adanya setelah sampai di tempat tujuan. Itulah orang-orang arif yang mampu memahami esensi hidup.
Ketahuilah kita hidup dan dihidupkan bukanlah hanya sekedar hidup, tetapi hidup kita harus sesuai aturan dari yang maha hidup. Dialah Allah yang menghidupkan kita. Bahkan keberadaan kita di dunia bukan hanya sebatas ada, tetapi bagaimana kita mampu memanfaatkan keberadaan ini, sebagaimana Allah menciptakan kita tidak mengada-ada.
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّما خَلَقْناكُمْ عَبَثاً وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنا لا تُرْجَعُونَ
"Apakah kamu menyangka bahwa itu semua Kami jadikan dengan sia-sia tanpa tujuan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?" (Qs. Al-Mukminun 23 : 115)
Sahabat, Allah menyebutkan dua saat dimana manusia menyesali dirinya yaitu :
Pertama : Pada saat menanti ajal tiba, yaitu ketika ia sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat. Ia berandai-andai untuk diberi sekejap waktu agar dapat memperbaiki kekurangan dan menebus apa yang terlenakan.
Kedua : Pada waktu di akhirat kelak, dimana seluruh amal perbuatan diberi balasan. Disana hanya ada dua tempat ; yaitu para ahli surga masuk di dalam surga dan ahli neraka masuk ke dalam neraka. Ahli neraka berandai untuk dapat kembali ke alam dunia sekal lagi agar dapat memulai dari awal kehidupan baru dengan amal sholeh.
Namun tidak terwujud apa yang mereka angankan, sebab masa kesempatan untuk beramal telah habis, yang ada adalah hanya pembagian hasil pekerjaan. Dunia tempat kita menagumpulkan kebaikan akhirat tempat kita menerima balasan.
" Kita hidup dan dihidupkan bukanlah hanya sekedar hidup, tetapi hidup kita harus sesuai aturan dari yang maha hidup. Ialah Allah Keberadaan kita bukan hanya sebatas ada, tetapi bagaimana kita memanfaatkan keberadaan in, sebagai mana Allah menciptakan kita tidak mengada-ada. "
From Buku "Bila Gelisah Bertambah Resah", Kiat Menyijkapi Kegundahan Hati
Karya Anwar Anshori Mahdum
Renungan :
Wahai Sahabatku, apakah kita sudah memahami tentang makna hidup?
Apakah kalian sudah tahu apa tujuan kita diciptakan?
Ya, memang benar Sahabat, hidup ini bukanlah sekedar kehidupan.
tapi "Bagaimana cara kita bisa memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang telah diberikan oleh Yang Maha Hidup. "
Janganlah kita diciptakan untuk hanya tujuan hidup yang sia-sia sehingga kita menyesali di kemudian hari.


Posting Komentar